Pencarian

Moko Dalam Tradisi Masyarakat Alor

  • PDF
  • Print
  • E-mail

 

Pulau Alor di Provinsi Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai Negeri Nusa Kenari karena di pulau ini banyak ditumbuhi pohon kenari sehingga buah kenari dijadikan sebagai komoditas  unggulan pulau ini. Selain dikenal sebagai Negeri Nusa Kenari, pulau Alor juga dikenal sebagai Negeri Seribu Moko karena dalam Tradisi masayarakat Alor, Moko memiliki peranan yang penting. Bagi masyarakat Alor, kepemilikan terhadap jumlah dan jenis moko tertentu dapat menunjukkan status sosial seseorang.
 
Moko atau disebut nekara perunggu merupakan benda budaya zaman pra-sejarah. Menurut para ahli Arkeologi dan sejarah, teknologi pembuatan Moko Alor berasal dari teknologi perunggu di Dongson, Vietnam bagian  Utara.
 
Kemudian teknologi ini menyebar ke berbagai daerah di Asia Tenggara, termasuk ke pulau Alor. Secara fisik, moko berbentuk seperti drum dengan diameter 40 sentimeter hingga 60 sentimeter dan tinggi 80 sentimeter hingga 100 sentimeter dan memiliki bentuk yang beragam. 
 
Pada umumnya Moko berbentuk lonjong seperti gendang kecil, namun ada pula yang berbentuk gendang besar. Pola hiasannyapun bermacam-macam tergantung  jaman pembuatannya dan sangat mirip dengan benda-benda perunggu di Jawa pada jaman Majapahit.
 
Dalam penggunaannya, Moko memiliki berbagai fungsi. Namun dahulu, Moko berfungsi sebagai alat musik tradisional yang digunakan pada waktu upacara adat dan acara kesenian lainnya. Biasanya alat musik gong dan Moko dimainkan untuk mengiringi tari-tarian tradisional. Selain sebagai alat musik tradisional, Moko juga berfungsi sebagai alat tukar ekonomi masyarakat Alor.
 
Moko dapat ditukar dengan barang tertentu secara barter. Hal inilah yang kemudian menyebabkan inflasi pada zaman pemerintahan kolonial Belanda sehingga Belanda membuat sistem baru dengan membatasi peredaran Moko di pulau Alor.
 
Seiring perjalanan waktu, Moko mengalami perubahan fungsi. Saat ini, Moko berfungsi sebagai peralatan belis atau mas kawin serta sebagai simbol status sosial. Dalam adat- istiadat pernikahan masyarakat Alor, Moko digunakan sebagai alat pembayaran belis atau mas kawin seorang laki-laki kepada calon isterinya.
 
Jika pihak keluarga pria tidak memiliki Moko, maka mereka harus meminjam moko kepada Tetua Adat. Peminjaman ini tidaklah gratis, karena pihak keluarga pria harus menggantinya dengan sejumlah uang yang cukup besar.
 
Memang harga satu buah Moko sangatlah bervariasi, bergantung dengan ukuran besar kecilnya Moko, tahun pembuatannya serta pola hiasnya. Namun bagi masyarakat Alor, moko tak bisa diukur dengan uang berapapun jumlahnya karena Moko mempunyai kedudukan dan nilai tersendiri dalam pergaulan sosial masyarakat Alor.
 
Memiliki beberapa jenis Moko tertentu menunjukan status sosial seseorang dalam masyarakat Alor,  misalnya Moko Malei Tana atau Moko Itkira. Kepemilikan kedua Moko ini menunjukan status sosial yang cukup tinggi dan terpandang. Bahkan yang memiliki kedua Moko ini memiliki pengaruh dalam setiap kepemimpinan tradisional masyarakat Alor.
 
Bagi anda yang berkunjung ke Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur, janganlah lupa untuk melihat benda peninggalan pra-sejarah ini. Anda dapat melihat beragam jenis Moko di Museum Seribu Moko atau di perkampungan adat tradisional di Takpala atau Monbang. Untuk mengunjungi kedua lokasi ini, anda bisa mengunakan transportasi laut maupun udara. Jika anda memilih menggunakan transportasi Laut, anda bisa menggunakan kapal Sirimau dari Jakarta.
 
Sedangkan jika menggunakan transportasi udara, anda harus transit di Bandara El Tari, Kupang, kemudian melanjutkan penerbangan ke Bandara Mali Alor. Sesampainya di pulau Alor anda bisa menggunakan transportasi darat menuju Museum Alor maupun perkampungan adat tradisional di Takpala atau Monbang